17 Januari 2010
Kananku Berduri,
Kiriku berliku,
hadapanku celaru,
Pejamkan mata bermimpi ngeri,
Pekakkan telinga tiada terdaya,
Mendakap siang tanpa mentari,
Memerhatikan malam sepi
rembulan,
Jangan diharap kejora menemani,
Hujan gerimis bakal mengundang,
Dan bila tika kumencari pintu cinta,
Seringkali kutemu gerbang derita,
Biarlah ia bebas dan berlalu,
Umpama bunga sakura ditiup bayu,
Tetap sepi tanpa nyanyian,
Terciptalah senaskah nota pilu.
Diriku cuba lari dari kenyataan,
Namun tak pula ku hampiri
kepalsuan,
Seperti sahaja inginku ringkaskan,
Tiada lagi cinta nan sejati,
Kelam lah aku di lautan sepi.
Telaga Merahku
Langit sore terlihat berwarna merah
jingga
Laut yang semula biru
Berubah seperti telaga darah
Yang berwarna merah
Ku coba ‘tuk tinggalkan telaga merah
itu
Melangkahkan kakiku
Diatas pasir telaga merah
Dan tinggalkan semua kenangan
Langkahku terhenti…
Ada keinginan ‘tuk melihat kembali
Telaga merah itu
Ku balikkan tubuhku
Kulihat jejak-jejak kakiku
Yang tertinggal di atas pasir telaga
merah
Ku pelajari satu hal dari semua
Yang kulihat,
Semua yang kita rasakan
Semua yang pernah terjadi
Akan menjadi kenangan
Dan kenangan itu…
Akan seperti jejak kaki
Ia akan hilang diterjang ombak
Dihapus hujan dan diterpa angin.
Cinta dikala Senja
Cinta itu hadir dikala senja tiba
Disaat aku ingin sendiri
Disaat aku ingin menyepi
Cinta itu hadir dikala senja tiba
Disaat aku merasa
Hati ini tak butuh pria
Cinta itu hadir dikala senja tiba
Bukan karena ketampannanya
Bukan karena pesonanya
Yang membuatku tergila-gila
Tapi kharismanya, angkuhnya,
senyumnya
Dan semua hal yang ada pada
dirinya
Yang membuat aku jatuh cinta
Cinta itu hadir dikala senja tiba
Ingin kukatakan semuanya
Kalau aku sayang dia
Kalau aku cinta dia
Cinta itu hadir dikala senja tiba
Matahari tergelincir dan malam
Mulai beranjak naik keperaduannya
Namun, hanya ucapan
“Selamat tinggal” yang terlontar
dari bibirku yang membeku.
Cinta datang… Cinta pergi… Cinta menghilang…
Kata sayang…
Kata cinta…
Hadirkan rasa luka
Hatiku tersayat,
Tercabik oleh cinta yang tak kunjung
terjawab
Hatiku retak,
Hancur hingga berkeping-keping
Tak mampu aku menatanya kembali
Tak mampu aku memilinnya lagi
Tak sanggup aku menyatukan
kembali
Terdiam aku tertegun
Menatap hati yang hancur
Terhenyak aku tanpa rasa
Menyaksikan darah yang mengalir
Dari hati yang terluka
Diriku hanya terdiam
Diriku hanya menatap hampa
Hanya luka
Hanya darah
Yang kini tertinggal